Ke-SH-an:Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli





“Sepi ing pamrih rame ing gawe” menanamkan pada kita bahwa bekeja keras itu tak boleh banyak pamrih. Pamrih boleh ada, asalkan sepi-sepi saja dan gawe-nya lebih banyak. Jadi, kalau mau bantu orang, tidak boleh memikirkan pamrih.Begitulah sifat Manusia SH sejati yang suka membantu tanpa pamrih kepada orang lain.
>>Baca Juga Tendangan Dasar PSHT
Misalnya kita membantu seorang ibu-ibu yang membawa barang belanja yang saangat berat,kemudian saat ibu itu berniat memberikan imbalan uang untuk kita dan lalu kita bilang "Tidak usah buu..saya ikhlas membantu ibu tadi",bukankah itu akan meninggalkan kesan yang baik pada diri kita?apalagi kalau tahu bahwa kita adalah seorang SH itu malah akan membuat nama PSHT menjadi baik,pastinya dalam hati ibu itu berfikir "Betapa baiknya anak itu,karena dia ikut latihan PSHT dia jadi anak yang baik suka menolong,,pasti perguruannya mengajarkan hal-hal yang baik dan luhur!",bukan seperti sekarang,PSHT dicap sebagai organisasi pembuat rusuh karena ulah sebagian oknum Warga PSHT yang suka tawuran sehingga mencemarkan nama PSHT itu sendiri.

Banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli mengajarkan kita supaya “sakti” tapi tetap rendah hati. Kalau kita pinter jangan membuat orang lain merasa minder. Kalau hebat,kita dituntut tetap bisa merakyat. Kalau jago, jangan sampai membuat kawan terlihat bodoh.
peribahasa ini mengajarkan kita supaya tetap rendah diri walaupun ilmu kita sudah setinggi langit,kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita punya dan kita kuasai,karena tanda orang bodoh adalah salahsatunya kesombongan..

>> Baca Juga pernafasan psht
SALAM PERSAUDARAAN!!!