Sejarah Hardjo Mardjoet Salah Satu Sesepuh PSHT

Sejarah Hardjo Mardjoet Salah Satu Sesepuh PSHT
Sejarah Hardjo Mardjoet Salah Satu Sesepuh PSHT (Sumber:jiwasetiahati.blogspot.com)


Mardjoet alias Hardjo Pramojo ataupun yang diketahui dengan nama panggilan akrabnya sebagai" Hardjo Mardjoet", adalah salah satu sesepuh dari Perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) salah satu Pencak Silat terbesar di dunia yang juga adalah perguruan Pencak Silat dengan jumlah massa yang sangat besar. Hardjo Mardjoet lahir pada tahun 1908, di Desa Sendung Lor, Watu Gede, Wlingi, Blitar. Dia ialah anak ke 2 dari 13 bersaudara, ibunya bernama Sariyem. Generasi muda PSHT harus mengetahui dan mengenal profil beliau sebagai tokoh sesepuh PSHT yang harus diikuti teladannya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda

Di Blitar, beliau menempuh bersekolah di SR ( Sekolah Rakjat), kemudian beliau meneruskan pendidikannya dengan mengikuti kursus- kursus yang antara lain di bidang grafika( percetakan).

Sebagai seorang yang dikenal pemberani, Hardjo Mardjoet mulai mengadakan pergerakan dengan para pemuda Blitar dalam melawan Belanda di tahun 1925. Dia ditangkap oleh Pemerintah Kolonial Belanda di tahun 1926, dimasukkan ke dalam penjara Blitar, kemudian dipindahkan ke penjara di Nganjuk, keudian dipindah lagi ke penjara Cipinang, Jatinegara, Jakarta. Dipenjara Cipinang tersebut dia sempat berupaya buat melarikan diri dengan cara melompat keluar dari tembok penjara. Namun usahanya itu tidak berhasil dan ia berhasil ditangkap lagi oleh sipir penjara. Sehingga, akibat perbuatannya itu, hukumannya jadi ditambah.

2. Perjumpaan dengan Ki Hadjar Hardjo Oetomo

Ditahun 1926 itu, nasib membawa ia untuk berjumpa dengan Ki Hadjar Hardjo Oetomo, seorang saudara Setia Hati yang juga merupakan seorang pejuang perlawanan terhadap kolonial Belanda. Hardjo Mardjoet kebetulan ditempatkan 1 sel dengan Ki Hadjar Hardjo Oetomo di penjara Cipinang. Di dalam sel penjara, Ki Hadjar Hardjo Oetomo menceritakan jika dirinya dituduh Belanda sebagai seorang Komunis, karena kebetulan organisasi Sarekat Islam yang dia ikuti berupaya mengadakan perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, perlawanan itu bertepatan dengan perlawanan Partai Komunis Indonesia( PKI), dan juga menceritakan bahwa di Desa Pilangbango, Madiun, dia sudah mendirikan kelompok latihan Pencak Silat di tahun 1922, yang mana dalam sistem perekrutannya berbeda dengan metode yang ada di Persaudaraan Setia Hati di Winongo, tempatnya belajar Pencak Silat kepada Ki Ngabehi Soerodiwirjo, serta sudah mempunyai sebagian anggota yang antara lain merupakan Bapak Hardjo Sajono( Bapak Hardjo Giring, Bapak Jendro Darsono, dll).

Di sel penjara Cipinang inilah, setelah itu Bapak Hardjo Mardjoet belajar Pencak Silat kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo, bersama pula dengan tahanan yang lain, antara lain Bapak Siswo Soedarmo( Wongso Soedarmo). kemudian pada tahun 1929, Ki Hadjar Hardjo Oetomo terlebih dulu dikeluarkan serta dipindahkan ke sel penjara di Pamekasan- Madura selama 3 bulan, kemudian dikirim ke penjara Madiun kemudian setelah itu dibebaskan.

Pada tahun 1930, Bapak Hardjo Mardjoet dibebaskan dari penjara Cipinang, dikirim ke penjara Kalisosok- Surabaya selama 3 bulan sebelum proses pembebasan. Keluar dari penjara Kalisosok, dia di jemput oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo serta setelah itu diajak menetap di Desa Pilangbango- Madiun, tinggal di rumahnya sebab telah diakui selaku anak angkat.

3. Aktif di organisasi SH PSC 

Di Desa Pilangbango- Madiun, Bapak Hardjo Mardjoet berjumpa dengan Bapak Soedarso yang juga jadi anak angkat Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yang juga bertempat tinggal di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Dengan demikian, Bapak Hardjo Mardjoet jadi putra angkat Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang ke 2. Demikian pula dengan Bapak Soemo Soedardjo, diambil oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo selaku putra angkat yang ke 3 pada tahun 1933.

Dari ke 3 anak angkat Ki Hadjar Hardjo Oetomo tersebut, yang mendalami Pencak Silat sampai tingkatan III merupakan Bapak Hardjo Mardjoet serta Bapak Soemo Soedardjo, sebaliknya Bapak Soedarso cuma mendalami pelajaran Kerohaniannya saja (yang dikemudian hari jadi Regu Penasehat Kerohanian Bapak Presiden Soekarno di Jakarta).

Aktivitas tiap hari Bapak Hardjo Mardjoet, disamping belajar Pencak Silat dia pula bertugas mengantar putra Ki Hardjo Oetomo yang masih kecil yang bernama Bapak Harsono ke sekolah serta pula keliling berjualan lukisan hasil karya Ki Hadjar Hardjo Oetomo ke desa- desa, sampai sempat ke Pacitan berjalan kaki hingga 3 hari sekali kembali ke Pilangbango. Pemasukan dari penjualan lukisan dipecah 3, ialah buat yang menjual (Bapak Hardjo Mardjoet), buat yang membuat lukisan( Ki Hadjar Hardjo Oetomo), serta buat kas ditempat latihan di Pilangbango. Setelah itu Bapak Hardjo Mardjoet memperoleh pekerjaan di bengkel Kereta Api Madiun selaku tukang bubut. Di PJKA Madiun ini, anggota Setia Hati Pilangbango yang bekerja antara lain:

  1. Bapak Mochamad Irsyad
  2. Bapak R. Soewarno( Hasan Joyoadi Soewarno)
  3. Ki Ngabei Soerodiwirjo( Pendiri Persaudaraan Setia Hati) pula bekerja di bengkel PJKA Madiun tersebut.


Tahun 1935, berjumpa dengan Bapak Badini yang tinggal di oro- oro ombo Madiun yang turut latihan Pencak Silat di Pilangbango serta pula turut melatih Bapak Badini. Dikemudian hari Bapak Badini jadi pendamping demonstrasi seni Pencak Silat baik di Madiun ataupun di Istana Kepresidenan di Jakarta di tahun 1954, yang mana pendamping Bapak Hardjo Mardjoet tadinya merupakan Bapak Soetomo Mangkoedjojo serta Bapak R. Soewarno. Bapak Badini ini pula turut( Jawa: Ngenger) kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo serta menjualkan lukisan berkelana ke desa- desa dengan berjalan kaki.

Tahun 1943, Pemerintah Militer Jepang menyelenggarakan pertandingan adu ketangkasan melawan jago- jago Jepang yang jadi Perwira Tentara Jepang. Dalam pertandingan itu, Bapak Hardjo Mardjoet sukses mengalahkan jago sumo, serta atas kemenangannya itu dia memperoleh hadiah uang. Anggota Setia Hati Desa Pilangbango yang lain yang pula sukses memenangkan pertandingan tersebut merupakan Bapak R. Soewarno.

Sedangkan itu, Bapak Raden Mas Soetomo Mangkoedjojo dari Persaudaraan Setia Hati di Desa Winongo pula sukses menang atas jagoan sumo dari Perwira Tentara Jepang, yang setelah itu dikirim ke Singapura untuk melawan jagoan sumo, seorang Perwira Tentara Jepang serta sukses mengalahkannya sehingga memperoleh medali emas serta uang.

Tahun 1948, Ki Hadjar Hardjo Oetomo hadapi sakit parah sehingga tidak bisa aktif melaksanakan roda organisasi, yang setelah itu buat sedangkan diserahkan secara aklamasi kepada Bapak Hardjo Mardjoet untuk mengaktifkan kembali latihan.

Tidak hanya selaku pelatih, Bapak Hardjo Marjoet juga sempat menjabat selaku Pimpinan bagian teknik Pencak Silat di IPSI Madiun pada tahun 1954, yang dikala ini Pimpinan IPSI Cabang Madiun di jabat oleh Bapak Ruslan Wiryosumitro dari Persaudaraan Setia Hati di Winongo Madiun.

Tahun 1965, Bapak Hardjo Mardjoet ditetapkan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia( PPKRI), serta mendapatkan pensiunan dari Kementerian Sosial. Pada November 1967, Bapak Hardjo Mardjoet wafat dunia serta dimakamkan di kampung halamannya di Wlingi Blitar, dengan meninggalkan seseorang istri bernama Ibu Sriyati yang berasal dari Yogyakarta( menikah tahun 1937) serta dikaruniai 4 putra, ialah:

  1. Bapak Haryono
  2. Bapak Harsoyo
  3. Bapak Harmini, dan
  4. Bapak Mardiono

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai sejarah perjalanan hidup dari Bapak Hardjo Mardjoet, salah satu sesepuh Persaudaraan Setia Hati Terate. Semoga tulisan pendek ini dapat menambah wawasan pengetahuan untuk saudara-saudara Setia Hati Terate khususnya, Dan bagi masyarakat umumnya.

Salam Persaudaraan..... 

Posting Komentar

0 Komentar